Cerpen

0 komentar
Bulan malam ini sangat indah, bagaikan secercah harapan yang menyeruak di antara kilatan-kilatan kegelapan. Di kesunyian aku duduk terpaku menatap cahaya bulan, berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan yang akan membawaku ke dalam mimpi yang tak berujung. Dinginnya malam membawaku kembali ke kejadian 10 tahun yang lalu. Plungggggg…. Plunggg…… “suara apa itu?” aku begitu penasaran sehingga aku mencari asal suara tersebut. Plungggg…….. “suaranya semakin kencang. Ada apa sebenarnya?” aku masih terus berkata dalam hati. Plunnnngggggg……. Ternyata ada seorang gadis yang sedang duduk manis di depan danau, ia sedang melemparkan batu-batu yang sengaja ia ambil. Wajahnya sangat cantik, bak bidadari yang turun dari kahyangan. Cahaya bulan membuat wajahnya semakin bersinar dimataku. Tanpa basa-basi aku langsung menyapanya. Aku membuka percakapan dengan berani. “permisi….. Maaf, kamu sedang apa ya malam-malam begini ada disini?” “aku sedang menikmati kesendirianku.” Sahutnya datar “kesendirian? Nama kamu siapa? Kamu tinggal di daerah mana?” aku bertanya dengan begitu antusias. “iya, namaku Danella Hermanto. Aku tinggal di kompleks B, baru 3 hari aku pindah kesini.” “kenalkan, namaku Wilson Ferdinan. Aku juga tinggal di perumahan ini, lebih tepatnya di kompleks D.” “oh begitu, salam kenal ya Wilson!” jawabnya dengan senyuman. “iya, tapi kamu kok berani sih berkunjung ke danau ini sendirian? Ini kan sudah malam.” “aku bosan ada dirumah. Mami dan papiku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hampir setiap malam aku tinggal dirumah berdua saja dengan bibi.” “pantas saja! Baiklah kalau begitu kamu boleh kesini setiap malam, nanti aku temani biar kamu gak kesepian. Aku khawatir kalau ada sesuatu terjadi kepadamu, apalagi kamu ini kan perempuan.” “terimakasih Wil, gak usah repot-repot kok. Aku sudah terbiasa sendiri. Lagipula aku takut ganggu waktu kamu. kita juga baru saling kenal kan.” “gak apa-apa kok Dan, ini aku sendiri yang mau. Aku Cuma takut kenapa-napa saja dengan kamu. Naluriku sebagai seorang laki-laki adalah melindungi seorang perempuan. Gak masalah meskipun aku baru mengenal kamu.” “kamu baik banget Wil, terimakasih ya! Aku gak bisa melarang kalau kamunya memang mau seperti ini.” Kami pun mengobrol di danau tersebut hingga larut malam, Dan adalah tipe perempuan yang asik diajak ngobrol. Selain cantik, ia juga pintar dalam pelajaran. Hal ini membuatku kagum padanya. Sejak kejadian itu, malam-malam berikutnya aku menemani Dan duduk di tepi danau sambil memandangi bulan. Kami selalu mengobrol hingga larut malam. Tak terasa 2 bulan telah berlalu. Sekarang menemani Dan di tepi danau merupakan kegiatan rutin yang setiap malam harus aku lakukan. Semakin hari rasa kagumku padanya pun semakin bertambah. Banyak sekali hal baik yang ada dalam dirinya yang membuatku kagum padanya. Aku tak bisa menyangkal pesonanya dan aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Aku tak pernah mau mengungkapkan perasaanku padanya, aku takut perasaanku ini hanya akan membuat persahabatan kami berantakan. Aku akan selalu memperhatikannya dan memastikan dia tersenyum lepas saat bersamaku, begitulah caraku mencintainya. 3 tahun berlalu………. Usia persahabatan kami sudah 3 tahun. aku bertemu dengannya ketika kami sama-sama baru kelas X. selama 3 tahun pulalah aku menyimpan perasaan ini untuknya. Tak pernah aku berpikir untuk menyatakan isi hatiku padanya, yang ku lakukan hanya mengunci rapat semua ini dan berpura-pura bahwa rasa itu tak pernah ada. Hari ini rencananya kami akan makan malam di tepi danau untuk merayakan hari jadi persahabatan kami. Sekitar pukul 20.00 kami baru datang kesana. “cheeerssss!!” “cheers!” “happy anniversary buat persahabatan kita. Semoga persahabatan kita makin erat, makin langgeng sampai kakek nenek!” kataku penuh semangat. “iya, aku berharap gak ada yang berubah di antara kita. Apapun yang terjadi kita harus selalu ceria dan saling support.” setelah itu kami berpelukan, kami menghabiskan malam ini dengan perasaan bahagia. Aku akan berusaha melupakan perasaanku padanya, rasa itu tidak boleh semakin berkembang dihatiku. Semuanya harus di hentikan sebelum terlambat. Tak ada celah yang bisa membuatku menyatakan semua ini padanya, aku secara terang-terangan berkata bahwa kami akan bersahabat sampai kakek nenek. Ketika kami sedang asyik berdansa, tiba-tiba Dan ambruk ke pelukanku. Aku kaget bukan kepalang, ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Dalam keadaan panik aku pun segera membawanya ke rumah sakit. Aku langsung menelepon kedua orang tuanya. Mereka langsung datang kerumah sakit harapan kita. 1 jam kemudian dokter keluar dan memanggil kedua orang tuanya untuk berbicara. Sembil menunggu mereka berbicara aku memutuskan untuk melihat kondisi Dan. Aku melihat sekujur tubuhnya dipakaikan berbagai macam peralatan kedokteran yang sudah canggih. Aku khawatir mengapa Dan sampai dipakaikan alat seperti itu? Sepengetahuanku alat itu biasanya digunakan bagi mereka yang sedang koma, sedangkan tadi Dan hanya pingsan saja. Berbagai pertanyaan bermunculan di benakku. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Dan? Tak berapa lama kemudian, kedua orang tua Dan telah keluar dari ruang dokter dengan tampang sedih dan lesu. Aku langsung menghampiri mereka dan bertanya bagaimana kondisi Dan. “tante, om bagaimana kondisi Dan? Dan baik-baik saja kan?” mereka hanya termenung mendengar perkataanku, hal itu membuatku semakin menggebu untuk bertanya kepada mereka. “Tante, Om please jawab aku! Kenapa dengan Dan? Apa yang terjadi sama dia?!?” “dan…..danella terkena kanker otak stadium 2 Wil.” Tante Mira, mamanya Danella tak kuasa menahan air matanya. Ia pun menangis sejadinya pada saat itu juga. Berita tersebut bagaikan sengatan listrik yang menyetrum tubuhku. Aku lemas mendengar hal tersebut, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Pikiranku kosong, aku tidak bisa berpikir dengan jernih untuk saat ini. Aku segera berlari keluar untuk meneriakan semua bebanku. Aku terduduk di tengah jalan, aku berteriak meneriakan semua beban besar yang ada di punggungku. Lebih baik aku saja yang menderita penyakit itu, jangan Danella! Sudah cukup selama ini ia merasakan kesedihan dalam kehidupannya. Air mataku pun menetes bersamaan dengan turunnya hujan ke bumi. Akhirnya kedua orang tua Danella memutuskan membawa Danella ke Singapura untuk menjalani operasi pengangkatan kanker di otaknya. Lebih cepat lebih baik, oleh karena itu lusa rencananya mereka akan segera berangkat. Sebelum berangkat aku menemui Danella terlebih dahulu, aku berharap pertemuan kali ini bukanlah pertemuanku yang terakhir kali dengannya. Aku masuk ke ruang perawatannya, ia masih belum sadarkan diri meskipun kondisi tubuhnya sudah stabil. Aku memegang tangannya dan berbisik di telinganya “Dan, kembalilah dengan selamat. Kembalilah dengan selamat untukku! Aku akan selalu menunggumu disini. Apapun yang terjadi kuatkanlah dirimu, jangan menyerah terhadap kanker itu! Ini ku berikan sebuah kalung berbandul bulan. Kamu tahu gak kenapa aku memberikan kalung ini? Soalnya kamu itu sama kaya bulan, yang hanya bisa muncul di malam hari dan membuat bumi ini terang dengan cahaya yang kau pancarkan. Semangatmu itu bisa memberikan energi positif untuk orang lain. Kalung ini sepasang, yang satu lagi untukku berbandul matahari. Itu melambangkan aku sebagai matahari yang akan selalu menyinarimu, siangmu akan gelap bila tanpa aku. Aku ingin menjadi matahari yang selalu bisa menyinari siangmu. Tetaplah hidup untukku, matahari mu.” 1 bulan berlalu. Pagi ini aku harap-harap cemas mendapat kabar dari Singapura, aku sangat takut apabila hal itu benar-benar terjadi. Aku sangat takut apabila hari itu tiba, hari dimana bulan dan matahari tak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya. Tiba-tiba alunan lagu butiran debu dari rumor bersenandung ria, ternyata itu suara handphoneku. Ada panggilan masuk, sepertinya dari orang tuanya Danella. “hallo” “hallo Wilson” “ini Om Hermanto kan?” “iya, ini Om. Om hanya ingin memberitahu kamu bahwa Danella telah tiada Wil. Ia telah menghembuskan nafas terakhirnya semalam.” Seluruh tubuhku bergetar mendengar semua ini, ternyata hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Aku jatuh terduduk di lantai, seakan tak percaya bahwa Dan telah tiada. “sebelum meninggal dunia Danella sempat memberitahu Om, bahwa dia menyembunyikan kotak rahasianya di pohon dekat tepi danau. Dia ingin kau yang mengambil kotak itu Wil. Itulah pesan terakhirnya untukmu, dia juga minta maaf karena tidak pamitan dahulu padamu sebelum pergi untuk selamanya.” Aku menutup telepon dan langsung berlari ke danau kami. Disana aku langsung mencari pohon yang dimaksudkan Dan, aku pun menemukannya. Kotak itu digantung diatas pohon. Aku segera membukanya, ternyata isinya adalah sebuah buku diary. Di halaman depannya tertulis “bulan untuk matahari” . setelah kubaca satu persatu halamannya ternyata itu semua adalah curhatan hati Danella. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan dengannya, ya! Dia juga mencintaiku! Miris sekali bagiku mengetahui semua ini setelah ia telah tiada. Ia telah menyukaiku semenjak aku menawarkan diri untuk menemaninya setiap hari di tepi danau. Ia juga tak berani mencintaiku lebih dalam karena ia takut bila aku tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Di buku itu juga dia bercerita tentang penyakit kanker yang diidapnya. Dan telah mengetahui bahwa ia di diagnosis mengidap kanker otak, tapi ia tak pernah memberi tahu siapapun. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak mengetahui hal ini. Dan sudah pasrah apabila Tuhan mengambil nyawanya, ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Aku kembali tersadar dari ingatanku akan kenangan 10 tahun yang lalu, kini aku kembali memandangi bulan. Setiap melihat bulan, aku pasti merasa bahwa aku sedang melihatmu Dan. Lucu sekali, dua anak manusia yang dipermainkan oleh takdir. Inilah takdirku sebagai matahari dan kau bulan Dan. Seperti bulan dan matahari yang ada di 2 waktu yang berbeda, kita tak akan bisa menyatu. Aku berharap apabila kita terlahir kembali aku ingin bersamamu, aku ingin mematahkan takdir yang telah ada. Aku percaya kita bisa bersatu, meskipun bukan saat ini. Tunggulah aku disana bulanku……….

Cerpen

0 komentar
Bulan malam ini sangat indah, bagaikan secercah harapan yang menyeruak di antara kilatan-kilatan kegelapan. Di kesunyian aku duduk terpaku menatap cahaya bulan, berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan yang akan membawaku ke dalam mimpi yang tak berujung. Dinginnya malam membawaku kembali ke kejadian 10 tahun yang lalu. Plungggggg…. Plunggg…… “suara apa itu?” aku begitu penasaran sehingga aku mencari asal suara tersebut. Plungggg…….. “suaranya semakin kencang. Ada apa sebenarnya?” aku masih terus berkata dalam hati. Plunnnngggggg……. Ternyata ada seorang gadis yang sedang duduk manis di depan danau, ia sedang melemparkan batu-batu yang sengaja ia ambil. Wajahnya sangat cantik, bak bidadari yang turun dari kahyangan. Cahaya bulan membuat wajahnya semakin bersinar dimataku. Tanpa basa-basi aku langsung menyapanya. Aku membuka percakapan dengan berani. “permisi….. Maaf, kamu sedang apa ya malam-malam begini ada disini?” “aku sedang menikmati kesendirianku.” Sahutnya datar “kesendirian? Nama kamu siapa? Kamu tinggal di daerah mana?” aku bertanya dengan begitu antusias. “iya, namaku Danella Hermanto. Aku tinggal di kompleks B, baru 3 hari aku pindah kesini.” “kenalkan, namaku Wilson Ferdinan. Aku juga tinggal di perumahan ini, lebih tepatnya di kompleks D.” “oh begitu, salam kenal ya Wilson!” jawabnya dengan senyuman. “iya, tapi kamu kok berani sih berkunjung ke danau ini sendirian? Ini kan sudah malam.” “aku bosan ada dirumah. Mami dan papiku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hampir setiap malam aku tinggal dirumah berdua saja dengan bibi.” “pantas saja! Baiklah kalau begitu kamu boleh kesini setiap malam, nanti aku temani biar kamu gak kesepian. Aku khawatir kalau ada sesuatu terjadi kepadamu, apalagi kamu ini kan perempuan.” “terimakasih Wil, gak usah repot-repot kok. Aku sudah terbiasa sendiri. Lagipula aku takut ganggu waktu kamu. kita juga baru saling kenal kan.” “gak apa-apa kok Dan, ini aku sendiri yang mau. Aku Cuma takut kenapa-napa saja dengan kamu. Naluriku sebagai seorang laki-laki adalah melindungi seorang perempuan. Gak masalah meskipun aku baru mengenal kamu.” “kamu baik banget Wil, terimakasih ya! Aku gak bisa melarang kalau kamunya memang mau seperti ini.” Kami pun mengobrol di danau tersebut hingga larut malam, Dan adalah tipe perempuan yang asik diajak ngobrol. Selain cantik, ia juga pintar dalam pelajaran. Hal ini membuatku kagum padanya. Sejak kejadian itu, malam-malam berikutnya aku menemani Dan duduk di tepi danau sambil memandangi bulan. Kami selalu mengobrol hingga larut malam. Tak terasa 2 bulan telah berlalu. Sekarang menemani Dan di tepi danau merupakan kegiatan rutin yang setiap malam harus aku lakukan. Semakin hari rasa kagumku padanya pun semakin bertambah. Banyak sekali hal baik yang ada dalam dirinya yang membuatku kagum padanya. Aku tak bisa menyangkal pesonanya dan aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Aku tak pernah mau mengungkapkan perasaanku padanya, aku takut perasaanku ini hanya akan membuat persahabatan kami berantakan. Aku akan selalu memperhatikannya dan memastikan dia tersenyum lepas saat bersamaku, begitulah caraku mencintainya. 3 tahun berlalu………. Usia persahabatan kami sudah 3 tahun. aku bertemu dengannya ketika kami sama-sama baru kelas X. selama 3 tahun pulalah aku menyimpan perasaan ini untuknya. Tak pernah aku berpikir untuk menyatakan isi hatiku padanya, yang ku lakukan hanya mengunci rapat semua ini dan berpura-pura bahwa rasa itu tak pernah ada. Hari ini rencananya kami akan makan malam di tepi danau untuk merayakan hari jadi persahabatan kami. Sekitar pukul 20.00 kami baru datang kesana. “cheeerssss!!” “cheers!” “happy anniversary buat persahabatan kita. Semoga persahabatan kita makin erat, makin langgeng sampai kakek nenek!” kataku penuh semangat. “iya, aku berharap gak ada yang berubah di antara kita. Apapun yang terjadi kita harus selalu ceria dan saling support.” setelah itu kami berpelukan, kami menghabiskan malam ini dengan perasaan bahagia. Aku akan berusaha melupakan perasaanku padanya, rasa itu tidak boleh semakin berkembang dihatiku. Semuanya harus di hentikan sebelum terlambat. Tak ada celah yang bisa membuatku menyatakan semua ini padanya, aku secara terang-terangan berkata bahwa kami akan bersahabat sampai kakek nenek. Ketika kami sedang asyik berdansa, tiba-tiba Dan ambruk ke pelukanku. Aku kaget bukan kepalang, ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Dalam keadaan panik aku pun segera membawanya ke rumah sakit. Aku langsung menelepon kedua orang tuanya. Mereka langsung datang kerumah sakit harapan kita. 1 jam kemudian dokter keluar dan memanggil kedua orang tuanya untuk berbicara. Sembil menunggu mereka berbicara aku memutuskan untuk melihat kondisi Dan. Aku melihat sekujur tubuhnya dipakaikan berbagai macam peralatan kedokteran yang sudah canggih. Aku khawatir mengapa Dan sampai dipakaikan alat seperti itu? Sepengetahuanku alat itu biasanya digunakan bagi mereka yang sedang koma, sedangkan tadi Dan hanya pingsan saja. Berbagai pertanyaan bermunculan di benakku. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Dan? Tak berapa lama kemudian, kedua orang tua Dan telah keluar dari ruang dokter dengan tampang sedih dan lesu. Aku langsung menghampiri mereka dan bertanya bagaimana kondisi Dan. “tante, om bagaimana kondisi Dan? Dan baik-baik saja kan?” mereka hanya termenung mendengar perkataanku, hal itu membuatku semakin menggebu untuk bertanya kepada mereka. “Tante, Om please jawab aku! Kenapa dengan Dan? Apa yang terjadi sama dia?!?” “dan…..danella terkena kanker otak stadium 2 Wil.” Tante Mira, mamanya Danella tak kuasa menahan air matanya. Ia pun menangis sejadinya pada saat itu juga. Berita tersebut bagaikan sengatan listrik yang menyetrum tubuhku. Aku lemas mendengar hal tersebut, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Pikiranku kosong, aku tidak bisa berpikir dengan jernih untuk saat ini. Aku segera berlari keluar untuk meneriakan semua bebanku. Aku terduduk di tengah jalan, aku berteriak meneriakan semua beban besar yang ada di punggungku. Lebih baik aku saja yang menderita penyakit itu, jangan Danella! Sudah cukup selama ini ia merasakan kesedihan dalam kehidupannya. Air mataku pun menetes bersamaan dengan turunnya hujan ke bumi. Akhirnya kedua orang tua Danella memutuskan membawa Danella ke Singapura untuk menjalani operasi pengangkatan kanker di otaknya. Lebih cepat lebih baik, oleh karena itu lusa rencananya mereka akan segera berangkat. Sebelum berangkat aku menemui Danella terlebih dahulu, aku berharap pertemuan kali ini bukanlah pertemuanku yang terakhir kali dengannya. Aku masuk ke ruang perawatannya, ia masih belum sadarkan diri meskipun kondisi tubuhnya sudah stabil. Aku memegang tangannya dan berbisik di telinganya “Dan, kembalilah dengan selamat. Kembalilah dengan selamat untukku! Aku akan selalu menunggumu disini. Apapun yang terjadi kuatkanlah dirimu, jangan menyerah terhadap kanker itu! Ini ku berikan sebuah kalung berbandul bulan. Kamu tahu gak kenapa aku memberikan kalung ini? Soalnya kamu itu sama kaya bulan, yang hanya bisa muncul di malam hari dan membuat bumi ini terang dengan cahaya yang kau pancarkan. Semangatmu itu bisa memberikan energi positif untuk orang lain. Kalung ini sepasang, yang satu lagi untukku berbandul matahari. Itu melambangkan aku sebagai matahari yang akan selalu menyinarimu, siangmu akan gelap bila tanpa aku. Aku ingin menjadi matahari yang selalu bisa menyinari siangmu. Tetaplah hidup untukku, matahari mu.” 1 bulan berlalu. Pagi ini aku harap-harap cemas mendapat kabar dari Singapura, aku sangat takut apabila hal itu benar-benar terjadi. Aku sangat takut apabila hari itu tiba, hari dimana bulan dan matahari tak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya. Tiba-tiba alunan lagu butiran debu dari rumor bersenandung ria, ternyata itu suara handphoneku. Ada panggilan masuk, sepertinya dari orang tuanya Danella. “hallo” “hallo Wilson” “ini Om Hermanto kan?” “iya, ini Om. Om hanya ingin memberitahu kamu bahwa Danella telah tiada Wil. Ia telah menghembuskan nafas terakhirnya semalam.” Seluruh tubuhku bergetar mendengar semua ini, ternyata hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Aku jatuh terduduk di lantai, seakan tak percaya bahwa Dan telah tiada. “sebelum meninggal dunia Danella sempat memberitahu Om, bahwa dia menyembunyikan kotak rahasianya di pohon dekat tepi danau. Dia ingin kau yang mengambil kotak itu Wil. Itulah pesan terakhirnya untukmu, dia juga minta maaf karena tidak pamitan dahulu padamu sebelum pergi untuk selamanya.” Aku menutup telepon dan langsung berlari ke danau kami. Disana aku langsung mencari pohon yang dimaksudkan Dan, aku pun menemukannya. Kotak itu digantung diatas pohon. Aku segera membukanya, ternyata isinya adalah sebuah buku diary. Di halaman depannya tertulis “bulan untuk matahari” . setelah kubaca satu persatu halamannya ternyata itu semua adalah curhatan hati Danella. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan dengannya, ya! Dia juga mencintaiku! Miris sekali bagiku mengetahui semua ini setelah ia telah tiada. Ia telah menyukaiku semenjak aku menawarkan diri untuk menemaninya setiap hari di tepi danau. Ia juga tak berani mencintaiku lebih dalam karena ia takut bila aku tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Di buku itu juga dia bercerita tentang penyakit kanker yang diidapnya. Dan telah mengetahui bahwa ia di diagnosis mengidap kanker otak, tapi ia tak pernah memberi tahu siapapun. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak mengetahui hal ini. Dan sudah pasrah apabila Tuhan mengambil nyawanya, ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Aku kembali tersadar dari ingatanku akan kenangan 10 tahun yang lalu, kini aku kembali memandangi bulan. Setiap melihat bulan, aku pasti merasa bahwa aku sedang melihatmu Dan. Lucu sekali, dua anak manusia yang dipermainkan oleh takdir. Inilah takdirku sebagai matahari dan kau bulan Dan. Seperti bulan dan matahari yang ada di 2 waktu yang berbeda, kita tak akan bisa menyatu. Aku berharap apabila kita terlahir kembali aku ingin bersamamu, aku ingin mematahkan takdir yang telah ada. Aku percaya kita bisa bersatu, meskipun bukan saat ini. Tunggulah aku disana bulanku……….
 

STΔЯ princess(ʃ⌣ƪ⌣)♥ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos